Ini mungkin adalah salah satu hal yang membuat proses belajar bahasa asing di Indonesia dan mungkin juga di luar negeri menjadi hal yang sangat-sangat tidak efektif dan tidak menyenangkan. Beberapa Polyglot terkenal seperti Benny Lewis dari Irlandia dan juga Luca Lampariello juga mengalami kesulitan belajar bahasa asing di sekolah bahkan di anggap bodoh dalam bahasa asing saat mereka belajar bahasa asing di sekolah. Tapi, saat ini mereka terbukti sebagai orang-orang yang mampu menguasai banyak bahasa asing bahkan lebih dari 10 bahasa asing dalam waktu yang relatif tidak terlalu panjang. Tetapi kenapa mereka gagal di sekolah?

Karena sekolah selalu menganggap bahwa bahasa asing adalah mata pelajaran dan setiap murid harus bisa menjawab pertanyaan di dalam ujian dengan benar dan itu adalah satu-satunya indikator yang menyatakan seseorang mahir dalam berbahasa atau tidak. Tetapi, jika kita pikirkan lagi saat ini orang-orang yang saat ini di bilang mahir dalam bahasa asing belum tentu pandai dalam “berbahasa” saat ini, karena mereka belajar demi nilai dan setelah itu mereka tidak menggunakannya. Padahal, belajar bahasa asing adalah untuk berkomunikasi bukan untuk mendapatkan nilai bagus, apa gunanya nilai bagus tetapi tidak bisa berfungsi? Sekarang, kita coba bandingkan matematika dengan bahasa asing, jelas sangatlah berbeda. Tidak ada ruang untuk kesalahan di dalam ilmu pasti seperti matematika, fisika atau kimia. Tetapi, kesalahan dalam berbahasa adalah hal yang sangat bagus, kenapa? Karena itu berarti Anda berusaha untuk menggunakannya di dalam kehidupan, dan itu adalah hal yang wajar untuk di lakukan, Anda tidak akan meninggal hanya karena Anda salah dalam bicara bahasa asing.

Kemudian, banyak dari kita mengirim anak kita belajar bahasa asing di sekolah-sekolah bahasa agar nilai bahasanya menjadi bagus di sekolah? Untuk apa? Kemudian saat sekolah libur, anak-anak juga libur belajar bahasa asing. Ini adalah salah satu hal lucu yang membuat kami tidak habis pikir terkadang. Pola pikir kita seperti terbalik, kita ingin si anak mendapatkan nilai yang baik tanpa memiliki kemampuan untuk menggunakannya. Nilai bahasa inggris “90” tetapi saat orang-orang asing dating untuk bertanya dimana toilet, mungkin si anak akan ketakutan, gugup dan tidak bisa menggunakan nilai “90”nya lagi.

Kita sudah memasuki Masyarakat Ekonomi Asean dan ada seseorang dari pemerintahan yang pernah berkata bahwa kita belum siap dari sisi kemampuan berbahasa jika dibandingkan dengan Singapore dan Malaysia, ya jika di bandingkan dengan kedua negara jajahan Inggris itu ya mungkin masih bisa di terima. Tetapi, beliau melanjutkan bahwa Thailand memiliki kualitas pekerja dengan kemampuan berbahasa yang lebih baik di bandingkan kita, bahkan perusahaan-perusahaan di Thailand sudah mulai mempersiapkan kelas-kelas bahasa Indonesia untuk pekerja-pekerjanya. Tapi, bukannya anak-anak kita nilai-nilai bahasa inggrisnya bagus-bagus? 90?

Tentu saja hal itu tidak dilihat jika kita membawanya ke “medan perang” atau ke dunia marketplace. Kenapa? Untuk apa nilai 90 tanpa bisa mengkomunikasikan nilai 90nya? Perusahaan butuh orang-orang yang mampu mempraktekan nilai-nilai tersebut, bukan sekedar orang-orang yang pandai menjawab soal-soal di kertas ulangan.

Jadi, orangtua dan guru sekolah pastikan bahwa anak-anak murid juga mampu untuk mengkomunikasikan bahasa-bahasa yang mereka pelajari, khususnya bahasa Inggris dan mungkin bahasa Mandarin, karena saat ini ada beberapa sekolah negeri pun yang memasukan bahasa Mandarin kedalam kurikulum pembelajaran. Jadi, berenti menganggap bahasa asing sebagai sebuah mata pelajaran dan kita harus mendapatkan nilai bagus di dalam setiap ujiannya, tentu mendapatkan nilai baik dalam ujian adalah hal yang bagus tapi terlebih baik lagi kalau kita bisa menggunakannya di kehidupan nyata kita. Karena tanpa bukti nyata itu, nilai bagus tidak ada gunanya sama sekali. Terakhir, dalam belajar bahasa jangan takut buat kesalahan karena bahasa asing bukan matematika dan fisika.