Akhir-akhir ini muncul sebuah video viral yang menyebar di dunia maya mengenai seorang anak kecil di Bali yang “menguasai” 23 bahasa. Di akui bahwa kemampuannya berbicara bahasa sebanyak itu bukan karena si anak mengikuti kursus atau apa tetapi karena praktek langsung di lapangan dengan turis-turis yang datang ke bali. Anak ini sekarang bekerja menjual kartu pos kepada turis-turis, dan di dalam rekaman video itu si anak membuktikan kemampuannya berbicara dalam 23 bahasa, dari bahasa Inggris, Spanyol, Itali, Perancis, Rusia bahkan Mandarin dan Jepang. Tetapi, kemampuan bahasanya hanya seputar kartu pos dan berdagang.

Meskipun demikian, tentu ini adalah sebuah prestasi yang luar biasa mengingat umurnya yang masih sangat belia, dan keinginannya yang kuat untuk bisa berdagang dalam bahasa yang di gunakan oleh pelanggannya. Sejujurnya itu adalah hal yang luar biasa. Namun, ada beberapa hal yang ingin kami titik beratkan, yaitu seberapa jauhkan sampai kita bisa di anggap menguasai?
Pertanyaan tersebut terkadang membuat kita berpikir, apakah saya sudah menguasai sebuah bahasa asing? Kesalahan media adalah dengan menggunakan kata “menguasai” karena kata tersebut berarti kita mengerti sampai ke dalaman bahasa tersebut, secara tata-bahasa dan hal-hal lain dari bahasa tersebut. Namun, jika di sebutkan “Anak kecil yang mampu berbicara dalam 23 bahasa” tentu akan menjadi lebih masuk akal. Karena, tujuan dari belajar bahasa asing bukanlah untuk menguasai bahasa tersebut, namun untuk mampu berbicara dalam bahasa tersebut.
Terkadang, kita jatuh ke dalam lubang yang sama berulang kali. Dalam artian, kita terpaku pada “menguasai” bahasa asing, yang akhirnya membuat kita terus berfokus pada tata-bahasa, kesempurnaan, tidak boleh salah, dan pelafalan yang sempurna. Namun, jika kita memiliki pola pikir seperti anak ini, tentu kita sudah bisa banyak bahasa bukan? Karena sangat jelas bahwa Anak ini tidak memiliki aksen dan pelafalan yang akurat, dan tentu tata-bahasanya bukan yang paling sempurna. Namun, Ia berani untuk mengambil langkah untuk berjualan dengan kemampuannya tersebut, dan akhirnya suatu hal yang baik terjadi padanya.
Oleh karena itu, kita juga harus memiliki pola pikir seperti si anak ini yang mampu berbicara dalam 23 bahasa ini. Jangan takut untuk “menyombongkan” kemampuan bahasa kita, karena memang tujuan belajar bahasa memanglah untuk berkomunikasi dengan orang lain yang artinya kita harus mempraktekannya di depan orang lain bukannya untuk kita nikmati sendiri. Karena secara dasar kita memanglah makhluk sosial, jadi kita perlu untuk berhubungan dengan orang lain entah itu dengan bahasa ibu kita atau bahasa asing.