“Hack” Proses Belajar Bahasa Asing

Jika kita bicara soal hacking atau dalam bahasa Indonesia adalah kegiatan meretas, maka kita otomatis langsung berpikir soal memotong proses, mempercepat suatu hal atau mengambil suatu hal tidak melewati “prosedur” yang ada. Begitu pula dengan meretas bahasa asing, dan tentunya yang kita retas adalah proses belajar bahasa asing. Bertahun-tahun saya belajar bahasa asing, berbagai macam cara sudah saya coba dan metode yang paling tidak efektif adalah metode belajar seperti yang di lakukan di sekolah. Belajar dengan menulis buku harian bahkan jauh lebih baik di bandingkan dengan belajar bahasa asing di sekolah. Kenapa? Karena kita selama ini selalu menganggap bahwa bahasa asing adalah sebuah mata pelajaran dan bukanlah sebuah kemampuan, dan itu adalah pola pikir yang terbalik.

Kembali kepada hacking foreign languages, cara tercepat belajar bahasa asing adalah dengan berbicara dengan si penutur asli tapi kata-kata apa yang kita perlukan agar kita bisa membuat percakapan itu berjalan dengan “halus?” Itu adalah pertanyaan yang perlu di jawab, karena banyak orang yang memulai berbicara dengan penutur asli di hari-hari awal mereka belajar dan terbukti mereka bisa berbicara dengan penutur asli, kenapa? Karena mereka tahu kata-kata apa, frase-frase, atau kalimat-kalimat apa yang di perlukan untuk membuat sebuah percakapan berjalan dengan baik.

Jadi, hal terpenting sebetulnya dari meretas proses bahasa asing adalah meretas proses saat kita melakukan percakapan dengan si penutur asli, meskipun kemampuan tata-bahasa penting tetapi keberanian dan kemampuan membuat percakapan berjalan jauh lebih penting dalam proses meretas bahasa asing.

Kalau ada di antara teman-teman yang pernah belajar bahasa Mandarin dengan buku yang gambar-gambar kartun yang ada sedikit lucu dan mengerikan juga, teman-teman pasti tahu bahwa kosa-kata yang di berikan di dalam setiap dialog dan cerita sangatlah tidak relevan dengan kehidupan kita, akhirnya apakah setiap kata-kata itu akan kita pakai? Tidak, jadi kalau tidak di pakai tentu saja bakalan lupa.

Nah, kalau seperti kata-kata yang seperti apa yang membuat kita bisa memperhalus dan memperpanjang percakapan dengan orang asing? Tentu adalah konjugasi-konjugasi, kata-kata penyambung dan juga hal-hal seperti “menurut saya” “bisa tolong ucapkan sekali lagi?” hal-hal seperti ini kita anggap sepele padahal secara frekuensi kata-kata seperti “dan” “tetapi” “kalau” dan lain lain itu lebih tinggi di bandingkan kata-kata seperti “kuda” “kue” “pesawat luar angkasa”. Kenapa? Karena hal-hal seperti itu adalah kata-kata yang topical, yang artinya Anda tentu tidak akan menggunakan kata “kuda” saat Anda berbicara mengenai luar angkasa, ya kecuali Anda membawa seekor kuda kedalam pesawat luar angkasa Anda, sekalipun Anda betul-betul membawa kuda keluar angkasa sekalipun, kata-kata seperti “dan” “tetapi” “kalau” akan tetap muncul dan pasti lebih sering di keluarkan di bandingkan si “kuda” itu sendiri. Karena kita perlu kata-kata tersebut untuk menyambungkan kata-kata tersebut.

Kesimpulannya, Anda bisa membuat list kata-kata apa yang kira-kira akan Anda sering gunakan dalam kehidupan sehari-hari. Lalu, jika Anda ingin berbincang-bincang mengenai bisnis, ya pelajarilah kata-kata seputar bisnis jangan Anda terus mengikuti buku yang mungkin saat itu sedang mengajar Anda mengenai memasak. Buku sangatlah baik untuk Anda mempelajari tata-bahasa tetapi jangan kita terpaku pada buku untuk kosa kata. Anda punya smartphone, Anda bisa unduh kamus dan cari kata-kata yang Anda perlukan dan gunakan itu saat Anda melakukan percakapan dengan penutur asli. Saat Anda coba lakukan ini Anda akan merasakan hal-hal yang baru dan berbeda, terlebih saat si penutur asli mengerti dengan jelas dan bisa membalas apa yang Anda ucapkan.