Mungkin saya tidak memiliki kapasitas pengetahuan dalam bidang psikologi atau klinis mengapa hal ini bisa terjadi. Tetapi, kenapa tulisan ini saya tulis? Karena hal ini adalah hal yang tanpa saya sadari saya alami hampir setiap hari. Sampai di hari ini secara aktif saya berbicara 5 bahasa, yaitu bahasa Indonesia, Inggris, Mandarin, Jepang dan bahasa Korea. Meskipun memang secara frekuensi tidak bisa dibilang digunakan setiap hari. Tetapi, hal yang saya rasakan khususnya di bahasa Indonesia, Inggris, Mandarin dan bahasa Korea.

 

Ada salah satu penilitian yang menunjukan bagaimana bahasa ibu kita mempengaruhi bagaimana kita menyimpang uang atau menabung. Keith Chan, seorang professor di universitas Yale, menyimpulkan bahwa untuk orang-orang yang memiliki bentuk masa depan di dalam bahasanya cenderung untuk tidak menabung dibandingkan dengan orang-orang tidak memiliki bentuk masa depan di dalam bahasa ibunya. Kenapa? Karena untuk mereka masa depan terasa begitu jauh. Ia melanjutkan bahwa Saving (Menabung) adalah aktifitas yang menukar “penderitaan saat ini” dengan “kesenangan di masa depan” begitupun dengan merokok yang dapat kita kategorikan sebagai Negative Saving, karena banyak orang yang merasa bahwa merokok adalah pertukaran antara kesenangan dimasa sekarang dengan penderitaan dimasa depan. Kesimpulannya, untuk orang-orang yang tidak memiliki bentuk masa depan didalam bahasa ibunya, akan memiliki kecenderungan untuk tidak merokok sebesar 20% tidak terikat akan rokok.

 

Kemudian, apa yang saya alami mungkin tidak sampai di titik bahwa saya harus meneliti orang-orang lain dan harus memiliki sampel untuk menceritakan hal ini. Anggap saja ini berbagi pengalaman dalam berbahasa. Mungkin untuk beberapa orang hal ini cukup aneh dan superficial. Tetapi, ini kenyataan yang terjadi.

 

Pertama kita lihat soal bahasa Korea. Korea Selatan adalah negara yang secara budaya sangat dipengaruhi oleh nilai-nilai konfusius. Sehingga, hal tersebut terlihat dari bagaimana mereka memperlakukan orangtua atau orang-orang yang lebih muda dari mereka dan ini bahkan tercermin dari bagaimana mereka mengucapkan bahasa mereka sendiri. Dalam bahasa Korea ada yang disebut dengan 전댓말(Jeondaetmal) dan 반말 (Banmal), sederhananya bahasa formal dan bahasa yang lebih informal. Hal ini belum pernah saya sendiri alami sampai dititik saya harus lebih sering bertemu dengan orang-orang Korea yang lebih tua dibandingkan dengan saya. Saat menggunakan Banmal, rasanya sangat informal dan terkadang cenderung keras, kasar dan terasa bebas. Tetapi, saat menggunakan Jeondaetmal saya merasa menjadi seorang yang jauh lebih sopan, lebih tenang, lebih berhati-hati saat berbicara. Hal ini mungkin baru akan pelajar Korea mulai merasakan budaya Korea yang “merasuki” mereka. Karena, untuk kita orang Indonesia bahasa formal dan informal tidaklah terlalu terasa sampai mempengaruhi bagaimana kita harus berbicara, tetapi berbeda dengan bahasa Korea dimana bentuk formal dan informal sangatlah mempengaruhi gaya berbahasa, bentuk tata bahasa, kosa kata dari bahasa tersebut. Sehingga, semakin kita sering menggunakan bahasa formal semakin kita bisa melihat perbedaan antara bentuk formal dan informal yang kita sendiri gunakan. Tetapi, kalau kita hanya terus menerus menggunakan bentuk formal atau hanya bentuk informal, perubahan ini dalam diri tentu tidak akan terlalu terasa. Karena tidak ada pembanding antara formal dan informal.

 

Kemudian kita melihat bahasa Mandarin. Bahasa Mandarin adalah salah satu bahasa kuni di dunia dan memang banyak dipersepsikan oleh orang-orang sebagai bahasa yang kuno, tradisional dan cenderung membosankan. Tetapi, saat kita semakin mendalami bahasa Mandarin banyak hal yang mengejutkan yang merubah persepsi kita akan bahasa ini. Bahasa Mandarin adalah salah satu bahasa yang memiliki kosa-kata yang sangat banyak dan terbagi akan banyak huruf atau karakter Hanzi. Setiap kata juga dibagi atas 4 buah nada dan tidak bisa dipungkiri hal ini adalah salah satu hal yang mengerikan untuk pemula.

 

Nah sekarang kita lihat, karena kekayaan bahasa Mandarin maka saat kita ingin berbicara kepada seseorang “Ini adalah paman saya” dalam bahasa Indonesia atau mungkin bahasa Inggris, kalimat ini sudah cukup menjelaskan ini adalah paman kita. Tetapi, dalam bahasa Mandarin kita bisa mendapatkan informasi yang jauh lebih mendalam bahkan sangat dalam. Kenapa? Karena saat pengguna bahasa Mandarin menyebutkan “Ini adalah paman saya” kita bisa mengetahui secara langsung apakah paman yang dimaksud adalah paman yang berhubungan secara darah atau lewat hukum, apakah paman ini dari sisi ayah atau ibu, jika dari salah satu sisi apakah paman ini lebih tua dari ayah kita atau lebih mudah dari kita. Jadi hal ini terkadang membuat orang asing yang membuat belajar bahasa Mandarin menjadi kewalahan karena tentu kita harus menghafalkan begitu banyak kata baru untuk menjelaskan keluarga kita. Tetapi saat kita menggunakan bahasa Indonesia, kita bisa menjelaskan hal tersebut melalui kalimat bukan? Contohnya: Ini adalah paman saya yang adalah kakak dari ayah saya. Tetapi, dalam bahasa Mandarin kita hanya menggunakan satu kata saja untuk menjelaskan hal ini. Itulah sebabnya, kenapa saat kita membaca artikel dalam bahasa Mandarin akan cenderung lebih mendapatkan maksud dari apa yang ditulis. Kemudian, kuantitas huruf yang tertulis akan jauh lebih sedikit dari bahasa Inggris atau bahasa Indonesia tetapi mengandung makna yang jauh lebih kaya.

 

Kemudian, contoh lain adalah penggunaan intensifier. Dalam bahasa Mandarin terdapat berbagai bentuk kata yang menunjukan (sangat). Sehingga, terkadang orang Indonesia hanya bisa menangkap satu level dari kata-kata tersebut dan kita hanya menankapnya hanya “sebagai” sedangkan yang dimaksudkan oleh si penutur asing adalah hal yang jauh lebih dalam dibandingkan hanya dengan “sangat”.

 

Hal-hal ini membuat saya sendiri saat berbicara bahasa Mandarin merasa bahwa banyak kata-kata yang seharusnya tidak bisa saya ungkapkan dalam bahasa Indonesia dan hanya bisa di ungkapkan dalam bahasa Mandarin. Kemudian, karena bahasanya juga tonal, sehingga terasa lebih luwes dan tidak sekaku bahasa Korea. Sehingga, membuat saya secara pribadi memang yang lebih luwes.

 

Berbeda dengan bahasa Inggris yang memang secara alami adalah bahasa internasional dan persepsi orang-orang yang mengatakan bahwa bahasa Inggris adalah bahasa yang keren. Sehingga, banyak orang yang saya lihat saat mereka berbicara bahasa Inggris mereka menjadi orang-orang yang lebih percaya diri, tetapi tentu mereka yang berbicara bahasa Inggris secara lancar dan bukan yang belajar hanya di sekolah saja. Kenapa? Karena banyak dari kita yang hanya belajar tata-bahasa bahasa Inggris disekolah saja terpaku pada hal-hal yang tidak esensi dari bahasa Inggris yang membuat kita tidak berani dan bukannya membuat kita lebih percaya diri saat berbicara bahasa Inggris tetapi membuat kita takut dan merasa terintimidasi saat berbicara bahasa Inggris.

Sehingga, secara personal membuat saya menjadi lebih percaya diri saat berbicara dan menyampaikan pendapat karena kita merasa bahwa kata-kata yang kita gunakan adalah kata-kata yang memang terdengar keren saat diucapkan. Khususnya untuk hal-hal atau topik-topik obrolan yang kita gunakan untuk membicarakan hal-hal secara teknis, entah itu bisnis, politik, kesehatan, ataupun teknologi dan lain-lain.

 

Tentu bahasa-bahasa lain akan membentuk bagaimana kita berperilaku. Tetapi, hal ini hanya dapat dicapai saat kita merasakan budaya tersebut dan terus menerus berinteraksi dengan penutur asli. Karena dengan mendengar, merasakan dan melihat budaya tersebut secara langsung membuat kita melihat bagaimana bahasa membentuk bagaimana mereka berperilaku akan membuat kita semakin terhubung dengan bahasa tersebut.

 

Bagaimana caranya? Kita harus terus menerus belajar bahasa tersebut, rasakan bahasa tersebut bukan hanya melalui buku pelajaran bahasa saja. Melainkan melalui interaksi dan cara belajar yang lebih manusiawi.

Share This