Saat ini dengan meningkatnya ekonomi dan hubungan antar bangaa banyak sekali orang-orang dan juga orangtua-orangtua yang ingin menyekolahkan anak-anaknya di luar negeri, entah itu untuk mengambil gelar sarjana di luar negeri ataupun hanya sekedar untuk menguasai bahasa asing, dan tentunya negara yang paling banyak diminati untuk menguasai bahasanya adalah negara-negara berbahasa inggris dan juga Cina. Namun, tidak banyak orang-orang yang pergi melalui program beasiswa ke negara-negara yang jarang terdengar oleh kita seperti: Swedia, Norwegia ataupun Rusia. Tetapi, negara manapun yang di datangi untuk belajar tentu mensyaratkan para peserta untuk mampu berbicara di dalam bahasa tersebut.

 

Program sarjana yang di lakukan di luar negeri dan tentunya bukan di universitas internasional yang notabene menggunakan bahasa Inggris tentu mensyaratkan kita kemampuan di dalam bahasa tersebut. Sebagai contoh: Jika kita ingin mengambil sarjana di Universitas nasional di Jepang tentu kemampuan berbahasa Jepang adalah kunci untuk menyelesaikan program sarjana, karena bagaimana mungkin kita menyelesaikan program sarjana tanpa mampu menguasai bahasanya. Sehingga, untuk orang-orang yang menyelesaikan programnya di luar negeri mempertahankan kemampuan bahasa bukanlah menjadi esensi karena dalam masa 4 sampai 7 tahun sarjana tentu kemampuan bahasanya akan sangat baik karena para mahasiswa tersebut mampu menguasai bahasa-bahasa yang sulit. Sehingga, bahasa-bahasa sehari-hari seharusnya tidak akan mudah hilang dan lupa dengan mudah.

 

Permasalahannya adalah untuk orang-orang yang pergi keluar negeri hanya untuk menguasai bahasa asing saja. Sebagai contoh: pergi ke Amerika Serikat hanya untuk menguasai bahasa asing atau pergi ke Cina untuk menguasai bahasa Mandarin. Kemudian, kebanyakan dari peserta yang pergi keluar negeri tidak akan menghabiskan waktu sebanyak orang-orang yang mengambil program sarjana. Kebanyakan dari orang-orang yang pergi untuk sekolah bahasa asing di luar negeri paling banyak menghabiskan 2 tahun untuk menguasai bahasa dan tingga di negara tersebut.

 

Permasalahannya terletak di jangka waktu dan bagaimana mereka menghabiskan waktu mereka. Tentu ini tidak bisa di umumkan untuk setiap orangnya namun kebanyakan dari orang-orang yang pergi keluar negeri untuk belajar bahasa asing memiliki pola-pikir yang kira-kira sama, yaitu pergi keluar negeri untuk bermain. Khususnya untuk murid-murid yang sudah menyelesaikan program sarjananya. Banyak dari mereka hanya pergi untuk bermain dan bersenang-senang. Sehingga, jangka waktu 2 tahun itu di habiskan dengan bermain bersama orang-orang sebangsa yang sejujurnya bisa di dapatkan di negara sendiri juga.

 

Oleh karena hal itu, penguasaan bahasa asing menjadi sangat lambat dan cenderung tidak efektif. Namun, dalam jangka waktu 2 tahun tentu bahasa tersebut seharusnya sudah cukup terkuasai oleh para murid-murid yang pergi keluar negeri untuk belajar. Permasalahan kedua yang terjadi oleh murid-murid yang hanya pergi untuk belajar bahasa asing adalah “maintenance”.

 

Alasan kita pergi keluar negeri tentu adalah untuk menguasai bahasanya, kemudiaan saat kita berhasil menguasai bahasa tersebut apakah kita tidak akan lupa bahasa yang telah kita pelajari. Tentu saja tanpa penggunaan bahasa yang konstan, kemampuan berbahasa bisa saja menurun bahkan terlupakan. Kemudian, apakah kita akan membuang waktu 2 tahun yang telah kita habiskan begitu saja?

 

2 tahun tentu bukan waktu yang sebentar dan dalam jangka waktu tersebut tentu kita mampu menguasai bahasa tersebut, kita mampu berbincang-bincang dan bertukar pikiran dengan penutur asli. Namun, apa yang terjadi kita sudah tidak menggunakannya untuk jangka waktu yang panjang? Tentu kita akan lupa. Terlebih lagi untuk orang-orang yang pergi keluar negeri dan belajar hanya untuk setengah ataupun satu tahun, dalam jangka waktu 2 sampai 3 bulan tanpa penggunaan tentu bahasa itu bisa saja sudah menghilang.

 

Pertanyaannya, bagaimana kita bisa memaintain kemampuan berbahasa asing kita? Tentu untuk bahasa inggris tidaklah sulit karena saat kita menonton film di bioskop kita sudah terekspose dengan bahasa Inggris, namun bagaimana dengan bahasa-bahasa lain yang cenderung tidak memiliki acara-acara atau film-film yang semenarik film Amerika atau Inggris? Tentu akan menjadi tantangan lain yang perlu kita hadapi.

 

Untuk bahasa Mandarin masih banyak serial TV Taiwan yang cukup menarik untuk di nikmati, meskipun minat terhadap film-film Mandarin jelas jauh di bawah Korea Selatan dan orang-orang yang pergi ke Cina untuk belajar bahasa Mandarin tentunya bukanlah karena mereka suka dengan bahasanya, meskipun banyak yang jatuh cinta dengan bahasa Mandarin setelah beberapa waktu belajar.

 

Nah cara termudah untuk terus mempertahankan kemampuan berbahasa adalah dengan sama dengan bagaimana kita menghilangkannya. Maksudnya adalah dengan menggunakannya terus menerus entah itu secara aktif ataupun pasif meskipun tentu akan lebih baik jika kita menggunakannya secara aktif.

 

Penggunaan bahasa secara pasif dapat kita lakukan dengan banyak-banyak menonton acara tv ataupun membaca buku, dimana kita tidak memiliki tanggung jawab penuh untuk mengerti apa yang mereka bicarakan atau tuliskan. Sebaliknya penggunaan bahasa secara aktif berarti kita menggunakan bahasa tersebut untuk berbicara dengan penutur asli, dimana kita harus mendengarkan dan memperhatikan secara aktif karena kita harus membalas apa yang mereka bicarakan. Tentu di dalam prakteknya penggunaan secara aktif akan membantu kita memaintain bahasa asing jauh lebih baik dibandingkan dengan penggunaan secara pasif.

 

Oleh karena itu, kunci dari mempertahankan kemampuan berbahasa asing sangatlah sederhana yaitu dengan penggunaan bahasa yang tidak kenal henti. Sebaiknya kita mencari teman asing di negara kita sendiri agar kita bisa terus menggunakan bahasa tersebut, karena tentu akan sangat sulit jika kita harus terus berkomunikasi dengan teman kita yang berada di luar negerti meskipun itu juga adalah hal yang sangat mungkin di lakukan mengingat kemajuan teknologi yang luar bisa cepatnya. Lain cerita dengan orang-orang yang tidak memiliki teman asing di luar negeri sehingga terpaksa harus mencari teman di dalam negeri sendiri untuk terus mempertahankan kemampuan berbahasanya.

Share This